Slider Background

Your Blog Welcome Text

Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Maret 2014

Ahlusunnah wal Jamaah - Aswaja
Para aktivis NU dari berbagai institusi berkumpul dalam sebuah lokakarya yang digelar Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) di Aula P3M, Jalan Cililitan Kecil III No 12 Kramatjati, Jakarta, Jumat (21/3). 

Acara ini diselenggarakan sebagai media silaturahmi antarkomunitas kader muda NU yang merasa galau dengan perkembangan media sosial di dunia maya dewasa ini. Workshop bertema "Strategi Media dalam Penyelenggaraan Islam Damai dan Mengawal Pelayanan Publik yang Baik." 

Menurut Ketua Panitia Tita Radhiatan, acara ini akan digelar hingga Sabtu (22/3) sore. Hadir selaku narasumber sesi pertama, Syafi’ Alielha, pemimpin redaksi NU Online, mendampingi Direktur Eksekutif Matriks Indonesia Agus Sudibyo. 

Dalam pengantar awalnya, Syafi’ mengurai sengkarut situs Islam yang menebar kebencian. "Setidaknya ada empat situs yang sangat tinggi great-nya di dunia maya: ar-rahmah.com, dakwatuna.com, voa.islam.com, hidayatullah.com," paparnya.

Selain itu, lanjut Syafi’, ada beberapa situs yang diberi label Islam, misalnya, detikislam.com, kompasislam.com, dan masih banyak yang lainnya. Jadi, katanya, ketika kita mencari di mesin pencarian Google dengan kata kunci "Islam" maka yang keluar adalah tulisan atau berita dari website-website tersebut.

"Hal inilah yang patut segera kita jawab. Masak warga NU yang katanya jutaan itu tak mampu bikin web seperti mereka. Kita memang telah punya NU Online, tapi belum cukup. Mereka kecil, tapi dikelola dengan baik. Itu bedanya," tegas Syafi’.

Sementara itu, Agus Sudibyo justru tidak terlalu merisaukan keberadaan situs garis keras tersebut. Pasalnya, dia berpendapat tidak semua yang berbasis internet adalah pers. "Penegasan ini diperlukan karena muncul salah paham bahwa media sosial merupakan bagian dari pers. Karena para aktivis media sosial menyebut dirinya sedang praktik jurnalisme warga," ujarnya.

Hingga berita ini ditulis, kedua puluh aktivis dari berbagai institusi berbasis warga NU itu masih menggodok formula dan strategi menghadapi kicauan media Islam garis keras. "Kita harus secepatnya merumuskan bagaimana langkah kita ke depan," kata Agus Muhammad, salah seorang utusan dari Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) pusat. (Ali Musthofa Asrori/Mahbib)


Post: NU online
Link: http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,50922-lang,id-c,nasional-t,Para+Aktivis+NU+Rancang+Strategi+Media-.phpx
Read More
Agus Sudibyo dan Savic Alieha -
Workshop Strategi Media dalam Penyebaran Islam Dama dan Mengawal Pelayanan Publik

Pesan NU di Media Lebih Diterima Masyarakat

Banyaknya pengunjung yang mengakses situs-situs Islam yang cenderung radikal dan intoleran bisa saja disebabkan karena mereka memang dimobilisasi untuk itu dan karena mereka tidak diterima oleh realitas sosial di masyarakat sehingga gerakan mereka begitu masif dunia maya.

Demikian ditegaskan oleh Direktur Matriks Indonesia, Agus Sudibyo dalam Workshop bertajuk Strategi Media dalam Penyebaran Islam Damai dan Mengawal Pelayanan Publik yang Baik yang digelar oleh Perhimpunan Pemberdayaan Pesantren dan Masyarakat (P3M) di Jakarta, Jumat (21/3). 

“Ini sebetulnya potensi media yang berafiliasi ke Nahdlatul Ulama (NU), sebab pesan-pesan NU di media siber dan media sosial lebih bisa diterima oleh masyarakat,” terang penulis buku 50 Tanya Jawab Tentang Pers ini. 

Dia menjelaskan bahwa situs-situs Islam radikal sama sekali tidak berprinsip pada kode etik jurnalistik. “Berita-berita yang mereka buat tanpa melalui cek, ricek maupun kroscek,” ungkapnya.

Dia juga menuturkan bahwa hal ini sesungguhnya bisa diadukan secara hukum melalui Dewan Pers, karena sebagai penyedia informasi, meraka jauh dari dari kaidah-kaidah pers yang mengungkap fakta dan berimbang. “Kita bisa mengadukannya secara hukum, dan mereka tidak akan mendapat perlindungan Dewan Pers, karena mereka bukan bagian dari pers,” tegasnya.

“Kita harus mencoba menekan itu kepada Dewan Pers dan Kemenkominfo, jangan berparadigma bahwa berinternet bersih hanya dengan memblokir situs-situs porno, situs Islam radikal juga sangat meresahkan masyarakat,” pungkasnya.

Workshop ini berlangsung dua hari, 21-22 Maret 2014 dan diikuti oleh para aktivis media diantaranya Pemimpin Redaksi NU Online dan pendiri situs Islami.co Syafiq Ali, peneliti The Wahid Institute Alamsyah M Djafar, Salah satu Direktur Surya Institute Imam Malik, dan Pendiri Majalah Surah Sastra Hamzah Sahal. (Fathoni/Abdullah Alawi)
Read More

Sabtu, 07 September 2013


Peserta Pelatihan Dakwah Tranformatif P3M
Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) menggelar pelatihan dakwah tranformatif di Pondok Pesantren Nurul Dholam, Pengasih, Kulon Progo. Peserta pelatihan merupakan para pengurus masjid di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, Sabtu (7/9).

Di hari Sabtu yang merupakan hari ketiga pelatihan, para peserta ditugasi langsung untuk terjun di masyarakat. Sementara dua hari sebelumnya, para peserta dibekali dengan sejumlah teori praktis terkait penelitian partisipatif.

Peserta yang berjumlah dua puluh satu orang dibagi menjadi tiga kelompok besar. Tiga kelompok menjalankan tugas penelitian di dusun berbeda.

“Penelitian-penelitian yang selama ini dilakukan menempatkan masyarakat sebagai objek. Sementara penelitian partisipatif ini menjadikan masyarakat subjek penelitian. Artinya, dalam penelitian partisipatif, peneliti dan masyarakat yang diteliti sama-sama bekerja sama dalam melakukan penelitian,” kata KH Hilmy Ali yang menjadi narasumber dalam pelatihan. 

Ketika ditanya mengenai harapan dari pelatihan ini, salah satu peserta menginginkan para takmir masjid bisa ikut andil dalam pemerintahan dan bisa memberikan sumbangsih nyata terhadap masyarakat.

“Kalau harapan itu terwujud, maka fungsi masjid akan kembali sebagaimana masjid di zaman Rasulullah yang bukan hanya berfungsi untuk ibadah mahdhah, tapi juga untuk ibadah ghairu mahdah (ibadah murni),” jelas perwakilan dari Majid Kokap Kulon Progo Chandra.

Pelatihan rencananya akan berakhir hari Senin (9/9). Pelatihan ini diikuti oleh perwakilan takmir lima masjid se-Kulon Progo.


(Rokhim/Alhafiz K)


Post: NU Online
Link: http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,46886-lang,id-c,daerah-t,P3M+Kulon+Progo+Gelar+Pelatihan+Penelitian+Partisipatif-.phpx
Read More

Rabu, 20 Maret 2013

Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) bekerja sama dengan Fatayat NU Ancab Cepogo, Boyolali Jawa Tengah melaksanakan pelatihan Membangun Ruang Keterlibatan Komunitas Masjid Dalam Musrembang Desa. Pelatihan yang bertempat di Pondok Pesantren Istiqomah, Cepogo, Boyolali itu rencanya berlangsung selama empat hari dari tanggal 13 sampai 16 Maret 2013.

Pelatihan sendiri dibuka langsung oleh Ibu Camat Cepogo Boyolali Siti Askariyah. Pada sambutanya, Siti Askariyah mengapresiasi dan mendukung acara yang digagas oleh Fatayat NU bekerjasama dengan P3M lantaran dinilai mampu membantu mengentaskan kemiskinan di Boyolali.

Sementara itu, Rois Syuriah PBNU, K.H. Masdar F. Mas’udi menghimbau untuk menjadikan masjid sebagai center gerakan umat untuk memakmurkan masjid dan memakmurkan bumi Allah SWT. Kalau ini sudah menjadi gerakan bersama akan membantu pemerintah untuk merealisasikan program pemerintah tanpa harus mengeluarkan dana sosialisasi.

Lebih lanjut dia mengatakan selama ini pemerintah desa jarang sekali terdengar
membuat perencanaan pembangunan dan penganggaran yang lebih partisipatif berbasis kebutuhan desa. Padahal soal itu sedikitnya sudah ada dua Undang-Undang (UU) dan satu Peraturan Pemerintah. Di antaranya adalah UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, dan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa.

“Ketiga payung hukum tersebut sebenarnya memberikan memberikan peluang bagi desa untuk membuat perencanaan pembangunan dan penganggaran yang lebih partisipatif berbasis kebutuhan desa,” katanya di tempat yang sama.

Menurut Masdar wewenang yang diberikan UU tersebut belum menunjukan hasil yang maksimal. Karena dalam prosesnya tidak semua elemen desa bisa terlibat sementara hasilnya sering kali rumusan antara kebutuhan dan keinginan kurang bisa terbedakan dengan baik, hasil Musrembang Desa juga sering tidak menampung kebutuhan umat terutama yang miskin dan marjinal.

“Merujuk masa Rasulullah, kala itu Rasul kerap mendiskusikan permasalahan umat di masjid baik permasalahan ekonomi maupun sosial politik. Karenanya sekaranglah saatnya komunitas masjid dalam hal ini Ta’mir Masjid bisa menampung apa yang dirasakan oleh umat untuk selanjutnya bisa mencari jalan penyelesainya secara bersama,” pungkasnya. (mad/jto)


Post: suara kawan, 14 Maret 2013
Repost: P3M
Read More

Selasa, 12 Februari 2013

Indonesia Pesantren Network (IP Network) berencana mengembangkan teknologi informasi (TI) di 400 pondok pesantren di Indonesia. Hal ini untuk memupus kesan pesantren kumuh dan tertinggal dari lembaga pendidikan lain.

Sekjen IP Network Subhan Wira Wijaya menyatakan pihaknya optimis rencana ini akan terealisasi. Pasalnya, pesantren memiliki modal berupa SDM maupun lahan yang luas. Rencananya, IP Network akan menggandeng provider dan CSR sejumlah perusahaan yang peduli pendidikan.

"Selama ini pesanten mendapat stigma buruk, kumuh dan tak bisa mengakses internet. Kita akan mengubahnya dengan menjadikan pesantren pusat pengembangan TI di indonesia," kata Subhan di sela-sela halaqoh pesantren di Ponpes Ushuludin, Bawang, Salaman, Kabupaten Magelang, Minggu (10/2).

Halaqoh ini diikuti ratusan pimpinan ponpes dari seluruh Indonesia. Selain dari Jawa Tengah hadir pimpinan ponpes Jawa Timur, Lampung, Jambi, DIY, NTB, Palembang, Nias dan lainnya. Pembicara dalam kegiatan ini adalah Dirjen Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kemenag RI Drs H Saifuddin MA, pakar telekomunikasi Dr Slamet Suparmaji, Ketua PWNU Jawa Tengah Drs Muhammad Adnan MA, dan artis Mucle.

Disebutkan bahwa ada 37 ribu pesantren yang sudah memiliki Nomor Statistik Pondok Pesantren (NSPP). Jumlah ponpes akan lebih banyak lagi jika ponpes yang belum memiliki NSPP juga dihitung. "Kita akan bangun sinergi agar pesantren bisa menjadi basis IT negara," tandas dia.

Jika hal ini terwujud, Subhan optimis pesantren bisa sejajar atau bahkan kualiatasnya lebih tinggi ketimbang lembaga pendidikan modern baik di Indonesia maupun asing. "Kalangan pesantren harus bisa mewarnai dunia maya," ungkap pengasuh Ponpes Ushuludin KH Drs Mansyur Chadziq.

Menurut Gus Mansyur berulangkali laman internet NU diserang sejumlah kelompok hacker dari kalangan Islam garis keras. Mereka sengaja mengganggu dan merusak upaya dakwah warga NU lewat internet. Untuk itu, kata dia, kalangan Islam moderat juga harus menguasai tekonologi informasi agar bisa mengembangkan dakwah lewat media internet.

Ketua PWNU Muhmmad Adnan menegaskan bahwa pesantren memiliki keunggulan komparatif yang harus bisa ditransformasikan menjadi keunggulan kompetitif. "Zaman sudah berubah, pesantren harus bisa mengikuti perubahan zaman," tegas dia.

Sementara itu artis Mucle mengaku tergerak untuk memasyarakat IT di pesantren guna membuka akses dan wawasan kalangan pesantren. Ia berharap santri dan kyai akan melek teknologi karena dakwah kini tidak hanya melalui mimbar saja. "Pesantren itu lembaga tempat penciptaan pemimpin masa depan. Janganlah pengetahuan mereka dibatasi. Harus dibuka wawasan terhadap semua ilmu pengetahuan. Kini dengan satu gadget kita bisa membuka dunia," kata Mucle.


Post: Suara Merdeka, 10 Februari 2013
Repost: Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M)
Read More

Jumat, 18 Januari 2013

Jakarta-Dokumentasi atas kegiatan pendidikan dan keilmuan di pesantren perlu dilakukan. Yang demikian penting untuk pembelajaran ke depan sekaligus sebagai basis sejarah di masa mendatang.

Demikian menurut Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Masdar Farid Mas’udi saat dimintai pendapatnya oleh wartawan tentang pentingnya pendokumentasian kegiatan pendidikan dan keilmuan di pesantren, Sabtu (12/1) kemarin.

Menurut Masdar, Nahdlatul Ulama sangat berkepentingan dengan keberadaan dokumentasi di masing-masing pesantren. Apalagi basis keberadaan NU adalah pesantren, sehingga jika basisnya kokoh, Nahdlatul Ulama pun akan demikian.

Masdar juga berpendapat, gagasan untuk membumikan semangat pendokumentasian di pesantren merupakan ide yang sangat baik. Hanya saja, ia mewanti-wanti, dalam pendokumentasian hendaknya menggunakan sistematika yang baik. Jangan asal ditumpuk begitu saja dan perlu dibuat katalog dokumentasi.

Rais Syuriah PBNU Masdar Farid Mas’udi mengemukakan, dokumentasi memang sebuah tema yang luas. Namun, pada tahapan awal, ia berpandangan, dokumentasi administratif seperti fisik tanah dan kepengurusan pesantren dari masa ke masa, memungkinkan disegerakan.

Selain itu, dokumentasi non fisik seperti kegiatan pendidikan yang disertai sejarah dari waktu ke waktu bisa dilakukan di kemudiannya. Pertambahan jumlah kitab yang dipelajari oleh para santri di pesantrenpun penting didokumentasi. Demikian juga dengan pemikiran kyai yang disampaikan dalam piwulang dan petuah juga perlu diabadikan.

Masdar menambahkan, dokumentasi di pesantren akan memberikan banyak manfaat untuk pesantren itu sendiri, sebab meski tidak banyak, tetapi ternyata di pesantren pun ada dinamika.

Masdar Farid Mas’udi juga menyarankan, guna memudahkan proses pembelajaran, kitab-kitab yang dipelajari di pesantren atau materi ajar yang dipergunakan bisa dibuatkan semacam sinopsis per kitab.

Menurutnya, di tengah perkembangan teknologi alat pendokumentasian yang semakin modern, gagasan dokumentasi di setiap pesantren menjadi semakin dekat dengan kenyataan pelaksanaan. (Wahyu Salvana)




Post: Mata Air
Repost: P3M
Read More

Senin, 10 Desember 2012



Search for Common Ground (SFCG) bekerjasama dengan Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) dan The Wahid Institute (WI) akan menyelenggarakan Diskusi Publik dengan tema "Memperkuat Peran Media dalam Pendidikan Toleransi di Indonesia" pada:

Hari/Tanggal           : Kamis/13 Desember 2012
Jam                          : 09.00 - 12.00 WIB
Tempat                    : Ibis Hotel Slipi, Jl. Letjen S Parman Kav. 59 Jakarta

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, kami mengundang Bapak/Ibu sebagai peserta dalam diskusi publik tersebut. Demikian surat undangan ini kami buat, atas kesediannya kami sampaikan terima kasih.

Jakarta, 07 Desember 2012



Hormat Kami,



SFCG




image: aspirasiku.com
POst: Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M)


Read More

Jumat, 07 Desember 2012


Kepada Yth, 
Rekan-rekan   
 
 
 
Salam sejahtera kami haturkan semoga Saudara/i senantiasa berada dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa di dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
 
Melalui surat ini kami, ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace) mengundang Saudara/i untuk hadir  dalam acara Konferensi Tahunan ICRP dengan temaMerajut Damai dengan Pendidikan Humanis” yang akan dilaksanakan pada:
 
Hari                 : Rabu, 1Desember 2012
Waktu             : 08.30 – 17.00 WIB
Tempat           : Auditorium Perpustakaan Nasional RIJl. Salemba Raya No. 28A  Jakarta Pusat.
 
Besar harapan kami agar Saudara/i dapat hadir dalam acara penting tersebut. Untuk jelasnya berikut kami lampirkan TOR acara. Demikian undangan kami, dan atas perhatian dan partisipasi Saudara/i kami ucapkan terima kasih banyak.
 
 
 
Salam,
 

===============================
Sekretariat ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace)
Jl. Cempaka Putih Barat XXI No. 34 Jakarta Pusat 10520
Telp. 021-42802349 / 50
Fax. 021-4227243
http://icrp-online.org/
Twitter: @ICRP_Jakarta
email: icrp@cbn.net.id
HP: 0852-81481413
Read More

Selasa, 23 Oktober 2012


LOMBA KARYA TULIS ILMIAH (LKTI) 2012
PERINGATAN TIGA TAHUN WAFATNYA KH. ABDURRAHMAN WAHID

Dalam rangka memperingati tiga tahun wafatnya KH Abdurrahman Wahid, Unit Penerbitan Pesantren Tebuireng, Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT) dan Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng (IKAPETE) bermaksud menyelenggarakan Lomba Karya Tulis. Tujuannya ialah menggali masalah-masalah keumatan dan keba
ngsaan yang masih menjadi masalah aktual dan mendesak untuk dicari pemecahannya. Masalah-masalah ini adalah bagian dari masalah bangsa dan umat Uislam yang menjadi kepedulian KH Abdurrahman Wahid dan juga kita semua.

KATEGORI
Peserta dibagi menjadi dua
1. Pelajar/Santri SLTA sederajat
2. Mahasiswa dan Umum

TEMA
Peserta memilih salah satu tema yang telah ditentukan Panitia di bawah ini:
1. Tantangan Kerukunan Umat Beragama di Indonesia dan Pemecahannya.
2. Mencari Titik Temu Islam dan HAM Universal di Indonesia.
3. Bentuk Ideal Peran Organisasi NU Di Bidang Politik.

WAKTU
a. Pengiriman Naskah 17Oktober - 15 Desember 2012
b. Pengumuman Pemenang 15 Januari 2013
c. Penyerahan Hadiah & Bedah Buku Hasil Lomba Karya Ilmiah 31 Januari 2013

KEJUARAAN
Pada masing-masing kategori dan bidang diambil 3 (tiga) orang pemenang dalam bentuk Piagam Penghargaan dan Uang Tunai:

Juara I Rp. 4.000.000,-
Juara II Rp. 2.500.000, 
Juara III Rp. 1.500.000,-

PERSYARATAN PENULISAN
1. Naskah ditulis minimal 15 halaman.
2. Menggunakan Bahasa Indonesia baku dengan tata bahasa dan ejaan yang disempurnakan, sederhana, jelas, satu kesatuan, mengutamakan istilah yang mudah dimengerti.
3. Bagian kelengkapan administratif meliputi halaman judul, nama, diberi nomor halaman menggunakan angka Romawi kecil.
4. Karya tulis diketik 1.5 spasi, kertas berukuran A4, font Times New Roman 12.
5. Naskah dikirim rangkap tiga berupa print out (hardcopy) dan email berupa softcopy ke alamat Panitia LKTI Peringatan Tiga Tahun KH. Abdurrahman Wahid Pesantren Tebuireng Tromol Pos 05 Jombang 61471 Jawa Timur Email: pustakatebuireng@yahoo.co.id

KETENTUAN LOMBA
1. Peserta adalah pelajar, santri, mahasiswa atau masyarakat umum sesuai identitas yang diberikan kepada Panitia.
2. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.
3. Karya tulis merupakan karya asli, bukan terjemahan, plagiat, dan belum pernah diterbitkan, dipublikasikan dan diikutsertakan dalam lomba sejenis.
4. Naskah harus sesuai dengan tema yang telah ditentukan.
5. Karya tulis yang sudah dikirimkan menjadi milik Panitia dan KTI pemenang akan dibukukan oleh Pustaka Tebuireng
6. Pemenang Lomba akan diumumkan melalui website resmi Pesantren Tebuireng
Read More

Kamis, 04 Oktober 2012

P3M -- DALAM kacamata kelompok besar Islam di Indonesia, Nahdlatul Ulama, Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 adalah harga mati. Dua perangkat landasan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia itu dipandang sebagai aktualisasi nilai-nilai ajaran Islam yang dirumuskan para pendiri bangsa dengan mempertimbangkan akidah, hukum, dan akhlak Islam.

Pada Musyawarah Nasional NU 1983-1984 di Situbondo, Jawa Timur, para dedengkot kelompok Islam terbesar di Indonesia itu melahirkan konsep 'Kembali ke Khittah 1926'. Konsep itu sejatinya menegaskan bahwa NU ingin lepas dari politik praktis yang dalam kepemimpinan Idham Chalid dianggap terlalu dekat dengan penguasa.

Namun, ketika itu rezim Orde Baru yang dikomandoi Soeharto rajin menginfiltrasikan Pancasila sebagai asas tunggal bagi seluruh kelompok masyarakat, sosial, maupun partai politik. Meski pun saat itu Pancasila sarat dengan tafsir tunggal rezim.

Sebagai orang dalam NU, saat itu menjadi anggota Tim Tujuh dan Dewan Penasihat Agama NU, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mendapat titah untuk menyiapkan respon NU terhadap isu asas tunggal Pancasila.

Tak berselang lama, tim yang digawangi Gus Dur menasbihkan bahwa Pancasila diterima sebagai asas NU sampai ia menggantikan Idham Chalid sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), bahkan hingga sekarang.

Bagi NU, penerimaan ini bukan tanpa sebab. Gus Dur pun demikian. Apalagi, jika berkaca pada sejarah, salah satu perumus Pancasila sebagai asas negara Indonesia adalah KH Wahid Hasyim, Ketua Umum PBNU pada masa perjuangan bangsa lepas dari penjajahan yang tak lain adalah ayah Gus Dur. Bahkan, kala itu, Wahid Hasyim berperan besar menangahi dua pemikiran besar kaum nasionalis dan kelompok agama Islam yang memperseterukan tujuh kata dalam Piagam Jakarta.

Menurut Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) KH Masdar Farid Masudi, penerimaan ini merupakan pilihan by design, bukan pilihan by accident. Oleh NU, Pancasila dan UUD 1945 dijadikan sebagai jembatan antara kenegaraan dan ke-Islaman.

"Gus Dur dan umumnya kiai menganggap Pancasila dan UUD 1945 sudah islami secara konsep. Di sana ada tujuan keadilan dan ada manhaj atau strategi mencapai keadilan, (contohnya) pada sila keempat. Malah masih ada tiga sila yang lain," kata Masdar Farid saat ditemui Metro TV, 14 September 2012.

Dalam kehidupan bernegara, lanjut Masdar, Gus Dur dan kiai NU lainnya tidak menganut adanya doktrin agama secara formal, yakni adanya negara Islam. Karena dalam pandangan Gus Dur dan para kiai NU, Islam itu ruh, esensi, dan nilai universal. Negara dengan berbagai sistem politik, sejarah, dan struktur kekuasaannya tidak menjadi penting, sebab yang terpenting adalah esensi nilai Islam yang dikandungnya.

"Kebernegaraan yang digarisbawahi Islam yang pertama adalah untuk menggelar keadilan bagi segenap rakyatnya. Yang kedua, strateginya harus dengan musyawarah, liberation," kata pria kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah, 58 tahun lalu itu.

Dua hal pokok ini, kata Masdar, sangat ditekankan dalam ajaran Islam. Bukan soal merek negara, batas, maupun sistem pemerintahan presidensial dan parlementer suatu negara.

Menurut Rais Syuriah PBNU itu, Islam yang terkait dengan ajaran kehidupan masyarakat Indonesia lebih bersifat terbuka. Dalam hal ini, formalitas keislaman menjadi sama sekali tidak penting, karena yang lebih penting adalah esensinya.

Maka dari pandangan kiai yang kemudian diartikulasikan lebih tajam Oleh Gus Dur, Indonesia dengan Pancasila sama sekali tidak ada masalah dari perspektif Islam. Karena yang terpenting bukan merek negara, tapi substansinya.

Perspektif kiai seperti ini, kata Masdar, tidak ada jarak sama sekali dengan konsep NKRI yang tidak menyebut negara Islam, meski semua landasan konstitusinya disebutkan dalam bahasa ke-Indonesia-an yang mengadopsi kultur lokal di dalamnya.

Sikap kebangsaan yang sejalan dengan ke-Islaman itu terkait erat dengan rumusan 'Pribumisasi Islam' yang digaungkan Gus Dur. Salah satu contohnya bisa dilihat dalam kehidupan pesantren.

Menurut Gus Dur, Islam yang berkembang di pesantren umumnya adalah Islam yang direbumikan, disesuaikan dengan budaya setempat. Islam dihayati dalam pola kehidupan masyarakatnya, diungkapkan dalam bahasa masyarakat, dan diamalkan sesuai konteks tempat umat Islam itu berada, terutama berkaitan dengan amaliyah non-ritual.

"Karena Islam tidak mengingkari eksistensi kebudayaan, kebangsaan, maupun kesukuan umatnya. Ini digarisbawahi oleh Alquran, 'saya ciptakan kalian lelaki dan perempuan dan kami jadikan kaian bersuku/berbangsa," ungkap Masdar.

Maka, menurut Masdar, jelas sekali konsistensi sikap Gus Dur pada kebhinekaan. Pesantren, yang sangat berpengaruh besar terhadap pemikiran Gus Dur, adalah tempat di mana tradisi untuk menghormati orang dari lingkungan apa pun, baik mazhab maupun agama berjalan dalam korior esensi nilai. Terlebih, lanjut Masdar, pesantren sangat populer dengan ucapan 'huallaualam' yang bermakna Allah lebih tahu mana yang benar, setiap kali kiai atau santri menyampaikan tafsir keagamaan.

"Ini kerendahan hati para kiai terhadap orang yang berbeda pandangan, pemikiran, pemahaman. Tidak memutlakkan kebenaran untuk dirinya sendiri sambil menuding yang lain sesat, berdosa, dan sebagainya. Gus Dur yang lahir, besar, sampai akhir hayatnya di sana (pesantren), sangat menghayati itu," pungkas Masdar.(Aji/Afwan)



repost: Perhimpunan Pesantren dan Masyarakat (P3M)
Read More

Selasa, 25 September 2012

SEMARANG--Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Komaruddin Hidayat mengatakan mayoritas pondok pesantren yang ada di Indonesia berpandangan moderat.

"Lebih-lebih pesantren Nahdlatul Ulama (NU), moderat sekali. Cikal bakal pesantren di Indonesia kan dari NU," katanya usai Orientasi Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (Unnes) di Semarang, Sabtu.

Berkaitan dengan aksi terorisme yang dikaitkan dengan pendidikan di pesantren, ia mengatakan wajar jika aksi pelaku terorisme dikaitkan dengan pendidikannya sehingga masing-masing pihak harus saling mengoreksi.

Ditanya soal Ponpes Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, kerap dikaitkan dengan aksi terorisme karena beberapa pelaku terorisme merupakan jebolan ponpes itu, Komaruddin mengingatkan harus dikoreksi apakah tuduhan itu berdasar.

"Ponpes Ngruki sendiri juga harus melakukan evaluasi. Kalau kemudian dikait-kaitkan, sedikit banyak bisa dimaklumi, karena itu hendaknya melakukan evaluasi," kata Guru Besar Filsafat Agama UIN Jakarta itu.

Bahkan, kata dia, pernah pula ada alumni UIN Jakarta yang terlibat terorisme, tetapi patut dipertanyakan apakah memang produk UIN, mengingat sudah alumni lama dan bisa saja mendapat pengaruh dari luar.

Menurut dia, pesantren mana pun, sekalipun Ponpes Ngruki, kalau diteliti kurikulum dan pendidikannya pasti tidak ada yang mengajarkan aksi terorisme, sebab terorisme memiliki metode dan pola rekrutmen tersendiri.

"Mereka (teroris, red.) pasti menggarapnya di luar institusi pendidikan, misalnya melalui pengajian, sembahyang malam, serta diskusi, dan itu di luar kurikulum dan institusi sehingga sulit ditelusuri," katanya.

Pengaitan aksi terorisme dengan lulusan pesantren, kata dia, memang memengaruhi citra pesantren secara umum, tetapi tidak besar.

"Sebab, pesantren itu terbuka sekali. Saya ini orang pesantren. Siapa pun boleh tidur di situ, mau berapa bulan. Orang asing saja boleh di pesantren. Perekrutan itu kan di luar (pesantren, red.)," kata Komaruddin.


Post: Kompas.com
Repost: P3M
Read More

Jumat, 31 Agustus 2012


P3M, Denpasar--Berbagai komponen umat Islam di Provinsi Bali berbaur bersama umat Hindu menghadiri silaturahmi Hari Raya Galungan di Puri Gerenceng, Denpasar, Jumat sore.

"Sebenarnya acara ini untuk melanjutkan nilai historis kerukunan umat beragama yang telah diwariskan para tetua kami terdahulu," kata penglingsir Puri Gerenceng, Anak Agung Ngurah Agung.

Menurut dia, kegiatan silahturahmi perayaan hari suci keagamaan secara bersama-sama dengan berbagai komponen tokoh agama dan profesi itu sebagai sarana menumbuhkan semangat "menyamabraya" (persaudaraan).

"Pada saat bulan puasa, kami juga sering diundang berbuka puasa bersama oleh kalangan umat Islam," ujarnya.

Hubungan yang baik, khususnya dengan umat Islam, lanjut dia, sudah terjalin sejak zaman perjuangan. "Rekan-rekan muslim juga telah turut berjuang pada saat perang Puputan merebut Kemerdekaan RI," katanya.

Sementara itu, Ketua Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Provinsi Bali Wartha D Sandi mengatakan, memang semestinya kerukunan yang sudah terjalin tetap dijaga dengan baik.

"Kami juga sudah merasa sangat dekat dengan masyarakat Bali," katanya sembari menyebut di Bali terdapat sekitar 100 anggota Barisan Ansor Serba Guna (Banser) yang siap menjaga keamanan Pulau Dewata itu.

Sedangkan anggota Gerakan Pemuda Ansor Bali kini berjumlah sekitar 10 ribu orang. "Mari di tengah heterogenitas masyarakat Bali kita lebih mantapkan kerukunan," ucapnya.

Puri Gerenceng sendiri sudah melaksanakan acara silaturahmi Galungan lebih dari 15 kali.

Pada acara ini, selain dihadiri oleh umat Islam juga hadir dari unsur TNI, berbagai organisasi masyarakat, dan tokoh-tokoh masyarakat Hindu.


Sumber: Kompas
Repost: Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M)
Read More

Senin, 27 Agustus 2012

JAKARTA -- Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengutuk terulangnya aksi kekerasan terhadap warga Islam Syiah di Nanggernang, Sampang, Madura, Jawa Timur. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Jakarta, Senin, mendesak aparat keamanan mengambil tindakan tegas terhadap para pelaku aksi kekerasan yang dinilainya sebagai tindak kriminal.

"Saya melihat (kejadian) itu sebagai kriminal murni, karena dakwah tidak dibenarkan kalau sampai harus saling melukai, apalagi saling bunuh. Oleh karenanya aparat penegak hukum, dalam hal ini kepolisian, harus bisa bertindak sesuai dengan hukum yang ada," katanya.

Terkait tudingan sejumlah pihak bahwa Syiah sebagai aliran sesat, menurut Said Aqil, bukan berarti tindak kekerasan terhadap penganutnya dibenarkan. "Kenyataannya di dunia ini Syiah dianggap sesat, keluar dari Islam dan lain sebagainya, tetapi tidak dibenarkan kalau penyelesaiannya melalui jalan kekerasan. 'Laa ikraha fiddin', tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), tidak ada kekerasan dalam agama," katanya.

NU, lanjut Said Aqil, menolak kekerasan dari dan kepada siapapun, serta apapun latar belakang kejadiannya.

"NU dengan Syiah jelas beda, terlebih dengan Ahmadiyah, jelas berbeda. Tapi dalam pergaulan kami menolak adanya kekerasan, karena ajakan berubah itu ada metodenya. Dakwah, diskusi yang bermartabat, dan itu semua yang selama ini kami lakukan," katanya.

PBNU sejauh ini sudah melakukan sejumlah upaya untuk membantu menyelesaikan perselisihan warga Islam Syiah di Sampang, Madura.

Ketua PBNU Saifullah Yusuf, yang juga Wakil Gubernur Jawa Timur, secara khusus sudah diberikan mandat untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, tetap sesuai dengan prinsip-prinsip Nahdlatul Ulama.

Personel Brimob mengawal sejumlah perempuan dan anak-anak,
ketika berlangsungnya evakuasi dari tempat persembunyian mereka,
di Desa Karanggayam dan Desa Bluuran, Sampang, Jatim,
Senin (27/8). (Saiful Bahri/Antara)



Read More

Selasa, 21 Agustus 2012

P3M--Kiai Haji Hasyim Asy’ari yang membidani kelahiran Nahdlatul Ulama layak disebut sebagai mahaguru pesantren Indonesia. Banyak kiai dan pemimpin pesantren menimba ilmu kepadanya. Sejarawan Islam, Azyumardi Azra, pernah menyebutkan, keunggulan KH Hasyim Asy’ari dalam hal keilmuan dan kepemimpinan membuatnya digelari hadratus syekh atau mahaguru pesantren di Indonesia.

Hasyim membekali diri dengan ilmu keislaman di sejumlah pesantren di Jawa Timur. Ia juga mendalami ilmu hadis di Mekkah, Arab Saudi. Sepulangnya dari Tanah Suci, Hasyim yang lahir dari keluarga pesantren lantas mendirikan Pondok Pesantren Tebu Ireng di Jombang, Jawa Timur, tahun 1899.

Awalnya, warga sekitar yang kala itu mengalami kebobrokan moral menolak kehadiran Hasyim dan pesantrennya. Namun, sikap Hasyim yang lemah lembut dan suka menolong lambat laun meluluhkan hati warga. Santrinya pun datang mengalir dari sejumlah daerah. Di bawah kepemimpinannya, Tebu Ireng menjadi pesantren terbaik dan terbesar di Nusantara pada abad ke-20.

Di bidang keilmuan, KH Hasyim mengarang buku-buku dalam berbagai bidang, seperti fikih, tasawuf, dan pemikiran Islam. Buku-buku itu masih dipelajari santri hingga kini. Kiprahnya tidak hanya dirasakan di Tanah Air, tetapi juga di dunia Islam internasional. Protesnya bersama Komite Hijaz atas rencana pembongkaran makam Rasulullah SAW dikabulkan Pemerintah Arab Saudi. Komite Hijaz dibentuk tahun 1926 yang berisikan sejumlah ulama di Jawa Timur.

Di balik ketokohannya yang disegani, Hasyim Asy’ari adalah sosok yang rendah hati. Ia pernah didapati mencuci pakaiannya sendiri. ”Mbah Hasyim ulama yang rendah hati dan sederhana. Beliau juga sangat menghormati ulama lain walaupun berbeda pendapat,” kata Fahmi Amrullah (44), salah seorang cucu KH Hasyim Asy’ari.

NU yang kini menjadi organisasi massa Islam terbesar di Indonesia berdiri 31 Januari 1926. Hasyim Asy’ari mendirikan NU bersama beberapa kiai, yakni Kiai Abdul Wahab Hasbullah, Kiai Bisri Syamsuri, Kiai Ridwan, dan beberapa ulama lain. Hasyim muncul sebagai figur yang mengarahkan dan menyusun aturan dasar NU.

Organisasi yang memiliki 85 juta anggota ini pernah mengalami pasang surut dan masuk pusaran politik. Cucu KH Hasyim Asy’ari, KH Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur, mengembalikan NU kepada khitahnya sebagai organisasi sosial keagamaan dan tidak terjun ke politik kekuasaan. (TIF/EKI)


Sumber: Kompas
Read More

Selasa, 17 Juli 2012



P3M, JAKARTA— Kepala Polri Jenderal Timur Pradopo menegaskan, polisi akan menindak tegas organisasi-organisasi kemasyarakatan yang melakukan tindakan sweeping. Jenderal bintang empat ini menegaskan, sweeping jelas tindakan yang melawan hukum.

"Saya ingatkan ormas-ormas untuk tidak melakukan hal-hal yang melanggar hukum," tegas Kapolri singkat kepada wartawan di Jakarta, Selasa (17/7/2012). Kepolisian, sambung Kapolri, telah bertemu dengan ormas-ormas untuk menyampaikan hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama Ramadhan. Terkait pengamanan Ramadhan, kepolisian turut bekerja sama dengan Kementerian Agama dan pemerintah daerah.

Sebelumnya, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi berharap tidak ada aksi kekerasan atau aksi main hakim sendiri dari kelompok mana pun terhadap tempat hiburan menjelang datangnya bulan Ramadhan.

"Saya berharap agar tidak ada sweeping dengan kekerasan di bulan Ramadhan. Cukup dengan mendesak kepolisian atau aparat agar menjaga etika terhadap mereka yang berpuasa," kata Hasyim Muzadi di Jakarta, Senin.

Menurut dia, aksi sweeping dan kekerasan hanya akan menguntungkan kelompok-kelompok yang selama ini sudah anti terhadap Islam. Mereka akan memanfaatkan aksi kekerasan itu untuk menghancurkan citra Islam.

"Sesungguhnya, kekerasan tersebut sangat menguntungkan kelompok anti-Islam atau islamophobia. Mereka akan menggunakan kekerasan tersebut untuk menutupi kekerasan atau white crime dalam skala yang besar dan luas," katanya.

Lebih lanjut, Hasyim mengatakan, konflik dan kekerasan horizontal yang terjadi belakangan ini disebabkan kelemahan kekuasaan. "Hukum yang tidak berkeadilan, politik yang tidak amanah, serta ekonomi yang rusak," kata pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam Malang dan Depok ini.



Editor :
Pepih Nugraha

Sumber: Kompas dot com, 17 Juli 2012
Repost: Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M)
Read More

Senin, 16 Juli 2012

P3M, Jakarta--With intolerance on the rise in Indonesia, Islamic boarding schools, known as pesantrens , are proving fertile ground not only for the spreading of radicalism, but also for efforts to counter it. 

Search for Common Ground, an international NGO that aims to foster better conflict-resolution, started a program last year that fosters messages of peace and tolerance from the hearts of pesantren students. 

“This program is a peace campaign, an education in tolerance and differences that is aimed at pesantren students,” Search for Common Ground program officer Suraji told the Jakarta Globe. 

Search for Common Ground staff member Zeva works with students on a radio program at Pesantren Qathratul Falah in Banten. (JG Photo/Ulma Haryanto)
Suraji, a pesantren graduate himself, is aware of how Islamic schools are in the spotlight as suspected breeding grounds for terrorism. He referred to the “accidental” explosion that rocked Umar bin Khattab Islamic Boarding School in Bima, West Nusa Tenggara, last year. 

Also recently revealed was a network of schools linked to radical cleric Abu Bakar Bashir, who is serving a 15-year jail sentence for funding a terrorist group that was planning attacks against Westerners and political leaders. 

Bashir ran the Al Mukmin pesantren in Ngruki, Central Java, which was said to be a recruiting ground for would-be suicide bombers and militants. 

Among the school’s graduates were Amrozi, Ali Imron and Ali Ghufron who played vital roles in the 2002 Bali bombings. Amrozi and Ali Ghufron were executed in 2008. Ali Imron is now serving life in prison. 

“Indonesia has more than 20,000 pesantrens and should be seen as a strategic target for educating tolerance and peace. They should have a more active role in peace campaigns,” Suraji said. 

Peace campaigners are turning to community radio to spread their message because it has the potential to reach most local residents. 

“People are already familiar with radio broadcasts. In areas that are blindspots for television or print, community radio thrives,” said Adi Rumansyah of West Java Community Radio Network (JRK), a consultant for the program. 

Adi said that community radio stations win easily over bigger radio stations when it comes to community ownership. 

“It broadcasts local content, so local residents can send their greetings to each other,” Adi continued. 

Pesantren community radio, he added, can strengthen social bonds since many people look up to local religious leaders. “Having a pesantren community radio opens a channel of interaction between pesantren and the people living around it,” Adi said. 

And what better message to broadcast than one of peace and tolerance? 

Partnering with the Wahid Institute, the Society for Pesantren and Community Development (P3M) and JRK, Search for Common Ground engaged 10 pesantrens, from Banten, Tangerang, Bogor, Tasikmalaya, Cirebon, Cilacap, Solo, Lamongan, Palembang and Makassar. The program started in September 2011 and will run until next year. 

“Search for Common Ground provides them with the hardware and radio equipment. Then we invite several students and a tutor for a five-day training course in Jakarta to help them with the basics of how to run their own community radio station,” Suraji explained. 

The training is not just on broadcasting and journalism, he added, but also on peaceful Islamic values. 

“For the first two days we re-introduce them to the importance of tolerance and respecting differences, that Islam should be rahmatan-lil-alamin [blessing for all creation],” he said. 

“We also chose pesantrens that are already familiar with the concept, but located in areas that are prone to conflicts,” he said when asked about their target group. 

Surveys by rights groups revealed that West Java has the highest level of religious intolerance, followed by Central Java, Banten and South Sulawesi. 

After the training, Search for Common Ground conducts quarterly monitoring of the 10 pesantrens, while seeking opportunities to engage more pesantrens in the program. 

Nur Ridho, 31, a participant from Solo, said Central Java was home to many Islamic schools groups. “I am glad that our pesantren was chosen for this program,” he said. “I hope that this can help us spread the message of peace.”


Resource: Jakarta Globe
Repost: the Society for Pesantren and Community Development (P3M)
Read More

Minggu, 15 Juli 2012


P3M, JAKARTA - Sekretariat Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Seknas FITRA), melansir potensi kerugian negara di 83 Kementerian/Lembaga (K/L) selama dua tahun pemerintahan SBY-Boediono, mencapai Rp 16,4 triliun.

Direktur Riset Seknas FITRA Maulana mengatakan, potensi kerugian negara diperoleh dari hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tahun 2009, 2010, dan 2011, terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Tahun Anggaran (TA) 2008, 2009, dan 2010.

"Potensi kerugian negara Rp 16,4 triliun, dengan 5.870 kasus di 83 K/L," ujar Maulana di Jakarta, Minggu (15/7/2012).

Maulana menjelaskan, potensi kerugian negara bersumber dari hasil pemantauan tindak lanjut pemeriksaan BPK dengan status 'belum ditindaklanjuti' sebanyak 2.886 kasus, dengan nilai kerugian negara Rp 7,4 triliun; serta status 'belum sesuai dan dalam proses tindak lanjut' sebanyak 2.984 kasus, dengan potensi kerugian negara sebesar Rp 9 triliun.

"Data ini menunjukan bahwa banyak K/L mengabaikan hasil audit BPK," imbuh Maulana.

Dalam analisis Seknas FITRA, Rp 16,4 triliun sama dengan dana bantuan operasional sekolah (BOS) untuk 23 juta siswa SMP, dana BOS bagi 28 juta siswa SD, dan dana Jamkesmas untuk 228 juta rakyat.

Atas temuan ini, Seknas FITRA mengeluarkan tiga rekomendasi. Pertama, menuntut Presiden SBY memperbaiki keuangan negara yang masih banyak penyimpangan dalam pengelolaan oleh para pejabat publik.

"Jangan jalan-jalan plesiran melulu ke luar negeri! SBY harus lebih fokus memperbaiki banyaknya kebocoran uang negara," tegas Maulana.

Kedua, kebocoran uang negara pada tahun anggaran 2008, 2009, dan 2010, memperlihatkan tidak adanya political will (niat politik) Pemerintah SBY dalam pemberantasan korupsi.

Pemberantasan korupsi, lanjut Maulana, hanya jargon untuk pencitraan pemerintahan SBY. Ketiga, menutunt DPR menggunakan hak pengawasan mereka terhadap realisasi anggaran di K/L negara, agar kebocoran anggaran bisa diminimalisasi.

"Selama ini, publik kecewa karena DPR menggunakan hak pengawasannya sebagai barter DPR, untuk meminta jatah program atau anggaran kepada eksekutif. Sehingga, fungsi pengawasan ditukar jadi materi atau anggaran yang berakibat pada kebocoran anggaran yang tidak bisa dihindari," papar Maulana. (*)

Sumber: Tribunnews
Repost: Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M)
Read More

Jumat, 22 Juni 2012

P3M, Surabaya- Ulama Baghdad Maulana Syech Afifuddin Abdul Qodir bin Mansyuruddin Aljailani Albaghdadi meminta kelompok Syiah dan non-Syiah untuk saling menebarkan cinta di antara mereka, karena Islam itu menyebarkan cinta, bukan kebencian.

"Karena itu Syiah jangan membenci pecinta Abubakar Assiddiq dan sebaliknya non-Syiah juga jangan membenci pecinta Ali bin Abi Thalib, karena Nabi Muhammad SAW menggandeng keduanya untuk sama-sama masuk ke surga," katanya di Gedung PWNU Jatim, Surabaya, Selasa.

Ia mengemukakan hal itu dalam silaturrahmi dan sambutan pada pengajian Hari Lahir ke-89 Nahdlatul Ulama (NU) di Gedung PWNU Jatim yang dihadiri Wakil Rais Syuriah PWNU KH Agoes Ali Masyhuri, Wakil Katib PWNU KH Abdurrahman Navis Lc, dan Ketua PWNU Jatim KH Mutawakkil Alallah.

Dalam acara yang juga dihadiri Ketua Majelis Taklim Roudlotus Salaf, Bangil, Pasuruan, Habib Umar bin Abdullah Assegaf, Syech Afifuddin yang merupakan keturunan ke-19 dari mursyid tarekat Qodiriyah, Syech Abdul Qodir Aljailani itu, mengakui kedatangannya ke PWNU untuk bertemu saudara sendiri.

"Pertemuan ini merupakan pertemuan sesama saudara, karena negeri ini paling kuat Islamnya. Dalam berdakwah di Jember, Malang, Bangil, Surabaya, saya lihat masyarakatnya ramah dan tumaknina (khusyuk dalam beragama)," katanya.

Apalagi, katanya, NU merupakan perkumpulan umat Islam yang kuat di Indonesia, karena itu umat Islam yang mayoritas itu tidak mungkin sesat seperti tuduhan orang lain bahwa warga NU sering berbuat bid`ah.

"Misalnya, bacaan Fatihah kepada orang yang sudah meninggal dunia itu dikatakan tidak bermanfaat, padahal Shalat Jenazah itu membaca Fatihah, shalawat, dan bacaan lainnya, apakah hal itu sesat?," katanya.

Dalam beberapa bulan terakhir, di Jatim terjadi gejolak umat Islam dengan kelompok Syiah di Sampang, Bondowoso, Jember, dan sebagainya, bahkan gejolak terkait Syiah di Sampang memicu aksi kekerasan.

Di sela-sela acara itu, Sekretaris Majelis Taklim Roudlotus Salaf, Bangil, Pasuruan, H Murtaji Djunaidi, menegaskan bahwa Syech Afifuddin yang kini bermukim di Kuala Lumpur itu sudah menganggap Indonesia sebagai "negara kedua" setelah Baghdad.

"Tahun lalu, beliau menyediakan waktu untuk berdakwah di Indonesia hanya tiga hari, tapi tahun ini cukup lama yakni 14-27 Juni. Tentu, hal itu karena kesan positif beliau terhadap umat Islam di Indonesia," katanya.

Ia menjelaskan Syech Afifuddin tiba di Jakarta pada 14 Juni, lalu bersilaturrahmi ke Bangil, Pasuruan untuk menyantuni 2.000-an anak yatim pada 15 Juni lalu. "Beliau sempat menyemangati anak-anak yatim agar tidak berkecil hati, karena Nabi Muhammad SAW juga yatim piatu," katanya.

Pada 16 Juni, Syech Afifuddin menghadiri Haul Habib Abdullah bin Sholeh Assegaf di Bangil, Pasuruan, lalu pada 17 Juni menghadiri Haul Syech Abdul Qodir Aljailani di Bangil, Pasuruan.

Selanjutnya, ke Pesantren Putri Salafiyah, Bangil, Pasuruan pada 18 Juni, lalu ke Pesantren Assalafiyah milik KH Hamid di Pasuruan dan mengunjungi TV-9 serta ke PWNU Jatim di Surabaya pada 19 Juni.

Pada 20 Juni, Syech Afifuddin menghadiri pengajian oleh Jamaah Manaqib di Curahmalang, Jember. "Beliau juga bertemu Kiai Asrori di Kedinding Lor, Surabaya dan ke Malang," katanya.

Dari Jatim, Syech Afifuddin juga akan bersilaturrahmi dengan umat Islam di NTB dan Banjarmasin hingga akhirnya kembali ke Jakarta pada 27 Juni untuk persiapan pulang ke Kuala Lumpur, Malaysia. (ANT)


Editor: B Kunto Wibisono
Sumber: Antara

Repost: Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M)
Read More

Sabtu, 16 Juni 2012

RANAKOLONG, P3M— Kerinduan warga masyarakat sebagai warga Negara Indonesia di Kampung Warunau, Desa Ranakolong, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Propinsi Nusa Tenggara Timur untuk menikmati air minum bersih belum terwujud sampai di era global ini. Usia Indonesia sudah 67 tahun belum dirasakan warga masyarakat kampung tersebut sebagai kebutuhan pokok seperti air minum bersih.
Warga masyarakat sangat merindukan dan ingin merasakan untuk menikmati air minum bersih. Bahkan dari zaman penjajahan Belanda sampai zaman reformasi di era globalisasi ini masih belum menikmati air minum bersih. Selama ini warga masyarakat mengambil air sungai di dekat kampung untuk memenuhi kebutuhan air minum bersih, bahkan warga bersyukur kalau hujan turun dimana mereka bisa menampung air hujan untuk kebutuhan air minum bersih.
Ungkapan itu disampaikan seorang warga Kampung Warunau, Desa Ranakolong, Kosmas Noning kepada Kompas.com di Kampung Warunau, Jumat (15/6/2012) kemarin. Noning mengungkapkan, warga masyarakat sudah lama merindukan adanya air minum bersih di kampungnya agar masyarakat tidak minum air sungai yang tak jauh dari kampung mereka.
Noning menjelaskan, kampung Warunau sejak dahulu sangat sulit dijangkau karena akses ke kampung itu sangat sulit. Namun, semangat masyarakat untuk maju perlahan-lahan membuka isolasi dikampung tersebut. Noning mengharapkan, kebutuhan dasar sebagai warga Negara Indonesia untuk air minum bersih diperhatikan secara serius oleh pemerintah Kabupaten Manggarai Timur di masa mendatang.
Noning menjelaskan, tetangga kampung disekitar Kampung Warunau sudah menikmati air minum bersih. Kepala Desa Ranakolong, Paulus Ndoi saat dikonfirmasi Kompas.com, Sabtu (15/6/2012) ini di Kampung Ranakolong menjelaskan, masalah kesulitan air minum bersih ini sudah sejak lama sebelum dirinya memimpin Desa Ranakolong.
Ndoi menjelaskan, dirinya sedang mencari upaya kesulitan air minum bersih di Kampung Warunau dapat diatasi di masa mendatang. Dirinya akan melakukan dialog dengan tetangga kampung agar dapat menyalurkan air minum bersih menuju ke Kampung Warunau. Ndoi mengungkapkan, dirinya sedang mencari cara untuk mendekati tua-tua adat dan tua-tua kampung di tetangga kampung agar dapat menyalurkan air minum bersih menuju ke kampung Warunau.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Manggarai Timur, Selamat Fransiskus saat melaksanakan kunjungan kerja di Kampung Warunau dalam rangka pembukaan Tambah Ruang Kelas (TRK) Warunau, Jumat kemarin mengisahkan, saat dirinya pergi ke Waelengga, Ibukota Kecamatan Kota Komba beberapa tahun lalu dengan jalan kaki, Kampung Warunau merupakan kampung persinggahan.
Anehnya, kampung ini kesulitan mencari air minum bersih, tetapi saat minta air saat haus warga masyarakat memberikan air minum bersih yang sudah dimasak. Yang menjadi kebanggaannya, lanjut, Fransiskus, "Saat ada acara kunjungan kerja dari para pejabat dari Kabupaten Manggarai Timur ke kampung itu, warga masyarakat melayani tamu-tamu dengan air minum bersih yang sudah dimasak seperti yang saya nikmati hari bersama dengan rombongan dari Kabupaten Manggarai Timur."


sumber: kompas dot com, 16 juni 2012
Read More

Kamis, 17 Mei 2012



CSOiEFA, Global Action Week 2012, Gebyar Kreatifitas Anak: Para peserta cilik di segmen lomba mewarnai dalam Gebyar Kretifitas Anak yang di selenggarakan CSOiEFA di GOR Ragunan, 28 April 2012

Read More