Slider Background

Your Blog Welcome Text

Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Maret 2014

Ahlusunnah wal Jamaah - Aswaja
Para aktivis NU dari berbagai institusi berkumpul dalam sebuah lokakarya yang digelar Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) di Aula P3M, Jalan Cililitan Kecil III No 12 Kramatjati, Jakarta, Jumat (21/3). 

Acara ini diselenggarakan sebagai media silaturahmi antarkomunitas kader muda NU yang merasa galau dengan perkembangan media sosial di dunia maya dewasa ini. Workshop bertema "Strategi Media dalam Penyelenggaraan Islam Damai dan Mengawal Pelayanan Publik yang Baik." 

Menurut Ketua Panitia Tita Radhiatan, acara ini akan digelar hingga Sabtu (22/3) sore. Hadir selaku narasumber sesi pertama, Syafi’ Alielha, pemimpin redaksi NU Online, mendampingi Direktur Eksekutif Matriks Indonesia Agus Sudibyo. 

Dalam pengantar awalnya, Syafi’ mengurai sengkarut situs Islam yang menebar kebencian. "Setidaknya ada empat situs yang sangat tinggi great-nya di dunia maya: ar-rahmah.com, dakwatuna.com, voa.islam.com, hidayatullah.com," paparnya.

Selain itu, lanjut Syafi’, ada beberapa situs yang diberi label Islam, misalnya, detikislam.com, kompasislam.com, dan masih banyak yang lainnya. Jadi, katanya, ketika kita mencari di mesin pencarian Google dengan kata kunci "Islam" maka yang keluar adalah tulisan atau berita dari website-website tersebut.

"Hal inilah yang patut segera kita jawab. Masak warga NU yang katanya jutaan itu tak mampu bikin web seperti mereka. Kita memang telah punya NU Online, tapi belum cukup. Mereka kecil, tapi dikelola dengan baik. Itu bedanya," tegas Syafi’.

Sementara itu, Agus Sudibyo justru tidak terlalu merisaukan keberadaan situs garis keras tersebut. Pasalnya, dia berpendapat tidak semua yang berbasis internet adalah pers. "Penegasan ini diperlukan karena muncul salah paham bahwa media sosial merupakan bagian dari pers. Karena para aktivis media sosial menyebut dirinya sedang praktik jurnalisme warga," ujarnya.

Hingga berita ini ditulis, kedua puluh aktivis dari berbagai institusi berbasis warga NU itu masih menggodok formula dan strategi menghadapi kicauan media Islam garis keras. "Kita harus secepatnya merumuskan bagaimana langkah kita ke depan," kata Agus Muhammad, salah seorang utusan dari Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) pusat. (Ali Musthofa Asrori/Mahbib)


Post: NU online
Link: http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,50922-lang,id-c,nasional-t,Para+Aktivis+NU+Rancang+Strategi+Media-.phpx
Read More
Para Santri Membuat Film Dokumenter
Oxi Septinina, santriwati yang menuntut ilmu agama di Pondok Pesantren Al Muayat, memotret sisi menarik dalam kehidupan sosial masyarakat kota Solo, Jawa Tengah. Bersama beberapa temannya, gadis remaja berusia 17 tahun ini menggambarkan toleransi antar masyarakat kota warisan kerajaan Mataram dalam satu film dokumenter.

Dalam dokumentasi gambar bergerak itu, Oxi berperan ganda, sebagai sutradara film sekaligus pemeran utama bernama Anisa. Dokumenter ini disajikan dengan mengisahkan seorang gadis remaja putri yang keseharian belajar agama dan mengaji di pesantren. Dia gelisah dengan maraknya kelompok ekstrem, kelompok teroris ditangkap di kota tersebut yang ramai menghiasi pemberitaan media massa.

Bersama lima temannya, yakni Laula Sawitri Hilman, Siti Zaenab, Anisa Nur Khasanah, Yuyun Najihah Al-Kholisi, dan Ashfiya, gadis remaja itu pun melahirkan karya film dokumenter berjudul 'Satu Alamat'. Film yang diproduksi oleh para santriwati Pondok Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan, Solo, sarat dengan nilai-nilai kerukunan antar umat beragama yang hidup berdampingan dan antikekerasan. Film itu dibikin sekitar Januari tahun lalu.

Dalam perbincangan dengan VIVAnews, Oxi menjelaskan, film pendek ini menceritakan kerukunan umat beragama di salah satu sudut kota Solo, yaitu di Jalan Gatot Subroto nomor 222, Serengan. Kerukunan itu tergambarkan lewat bangunan yang berdiri berdampingan dalam satu pekarangan, Masjid Al-Hikmah dan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan. Di masjid ini tidak ada bedug, begitu pula dengan gerejanya, tidak ada lonceng. Dengan demikian, pemeluk dua agama itu tidak saling mengganggu saat beribadah. 
"Dengan gambar ini membuktikan bahwa Solo bukan kota teroris," kata Oxi beberapa waktu lalu. 

Bagi Oxi, tak adanya dua benda simbol agama--bedug dan lonceng-- memberikan sebuah pembelajaran menarik. Menurutnya, agama itu bukan sekadar simbol, tapi juga menyangkut pembinaan hubungan horizontal antar umat beragama.

"Kami mengambil gambar di gereja pada hari Minggu saat jemaat beribadah. Mereka semua ramah, bahkan melihat kami lama berdiri mengambil gambar, mereka menyediakan saya kursi," tuturnya.

Dari film dokumenter ini, para santri belajar untuk memahami dan pengembangkan nilai toleransi. Oxi bersama temannya belajar bahwa membina kerukunan umat beragama sangat penting. Mengamalkan salah satu ayat dalam Alquran yang berbunyi: "Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku."

Seadanya

Penggagas ide cerita film dokumenter ini, Ashfiya Nur Atqia (19) mengatakan, mereka membuat film tersebut dengan peralatan seadanya. Hanya menggunakan kamera handycamkecil. Sebelum memproduksi film tersebut mereka mendapatkan pelatihan singkat dengan teman-temannya dari lembaga Search For Common Ground.

"Karena kami pemula, sebelum produksi film kami di-training hanya tiga hari," kata remaja putri yang duduk di bangku kuliah Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo tersebut.

Ashfiya yang memiliki hobi nonton film ini menceritakan, sejak kecil ia sering di ajak jalan-jalan menyusuri sudut kota Solo oleh ayahnya. Dalam jalan-jalan itu, dia dan ayahnya kerap melewati dua tempat ibadah yang berbeda agama tersebut. "Sejak kecil saya sering lewat sana," tuturnya.

Salah satu bentuk toleransi kedua umat beda agama itu, lanjut Ashfiya, apabila di gereja menggelar kebaktian saat jam Salat Magrib, mereka menunggu umat muslim selesai Salat di Masjid terlebih dahulu. Begitu pula sebaliknya, saat umat kristiani merayakan hari Natal, yang muslim juga ikut membantu.

Film 'Satu Alamat' ini merupakan salah satu film peserta Festival Film Santri 2013 yang digagas oleh Search for Common Ground, organisasi nirlaba yang concern dengan promosi perdamaian dan toleransi. Program yang didukung oleh The Wahid Institue dan Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) ini membekali santri-santri dengan keterampilan produksi radio dan video dokumenter untuk menyuarakan nilai Islam yang damai dan toleran.


Post: Viva News

Read More

Selasa, 11 Maret 2014

Lain Hariri Lain "Ustad Ingkar Janji"
ilustrasi Ustadz - imagemenittv
Adegan itu mirip pertandingan pencak silat yang tak seimbang. Leher lelaki berjaket hitam itu diinjak paksa dengan lutut kiri. Lutut itu milik lelaki muda yang tenar dipanggil Ustad Hariri. Ustad yang namanya dilambungkan sebuah audisi televisi itu memang bukan sedang bertanding pencak silat. Ia sedang berceramah agama di hadapan ratusan orang. Ceramah lalu berubah ngomel-ngomel dan makian dalam bahasa Sunda. Klimaknya, pertandingan pencak silat tak seimbang tadi. 

Orang marah dengan kelakuan Hariri. Rekaman adegan yang dipampang di youtube dibanjiri gelombang murka. Saya tak lagi sebut Ustad. Sebab, sebagian mereka yang marah, minta Hariri berabut gondrong tak disebut ustad. “Itu sih preman,” kata seseorang saat diwawancarai televisi. Saya setuju sebagian. Setuju untuk adegan ngomel-ngomel dan injakan leher. 

Dunia dakwah di layar kaca memang sering berubah jadi bisnis dan industri. Ia seringkali ditopang citra saleh. Ini yang membuat mereka bertahan atau melorot. Dan saya menduga, setelah ini “karir”nya bakal wassalam, setidaknya jumlah panggilan melorot tajam. Ia mungkin akan muncul di layar kaca. Tidak sedang berceramah, tapi sedang “dikuliti” infotainment tentang kasus itu. Tak ada stasiun yang mau menampungnya lagi. Tak ada pengiklan yang menempelkan citra produknya dengan kegiatannya. Bikin runyam! 

Sebagai bisnis dan industri, Hariri yang makin tenar –tentu sebelum ini—bakal dibarengi dengan kebutuhan yang terkerek. Harus ada biaya manajemen, kostum, dan biaya entertain lain. Seperti ustad-ustad muda televisi lain, kostum Hariri mirip model peragaan “busana islami”. Warna udeng-udeng dengan baju selalu senada. Mungkin itu persiapan peluncuran Hariri Collection. 

Dengan beban makin tinggi, aktivitas ceramah ini mau tak mau harus “bertarif”. Tarif menunjukan kelas. Makin mahal, makin berkelas. Mungkin pula manajemennya selalu getol menasihati agar ingat, bukan hanya target break even point (titik impas), tapi penghasilan yang berlebih. 

Nah, inilah yang ingin saya ceritakan. Kisah peceramah dan tarif. Ini kisah tentang seorang ustad asal Jakarta. Sebut saja Ustad Ingkar Janji. Ustad ini putera mubalig kondang asal Jakarta yang juga sering muncul di layar kaca. 
Lewat rapat bersama, masyarakat Pulau Tidung Kepulauan Seribu merencanakan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1435 H pada 5 Februari 2014. Panitia memutuskan mendatangkan Ustad Ingkar Janji ini. 
Untuk mengundang Ustad, pertengahan November tahun lalu panitia menghubungi seorang lelaki yang yang konon saudara dekat sekaligus manajer si Ustad. Pada 23 November, lewat pesan singkat, lelaki yang bekerja sebagai PNS Kementerian Agama ini menginformasikan, Ustad bakal hadir. “Oke Bu, Ustad bisa hadir undangan Maulid Pulau Tidung tanggal 5 Februari,” katanya. 

Untuk mendatangkan, tarif yang disepakati Rp 7 juta. Pada 3 Januari, panitia mengirim via bank Rp 1 juta sebagai “tanda jadi”. Karena mempertimbangkan cuaca, panitia menghubungi si Manajer. Panitia mengusulkan waktu Maulid diubah. Panitia mempertimbangkan kondisi cuaca. Usulan ditolak. Alasannya, jadwal Ustad sudah padat. 
Hingga dua hari sebelum acara, Ustad dipastikan bakal hadir. Tapi kepada panitia, si manajer ini meminta honor Ustad ditambah jadi Rp 8 juta. “Ustad takut ombak. Kalau ditambah pasti datang,” katanya. Kenaikan bisa “digoyang”. Hanya tambah Rp 500 ribu. 

Di hari H, pagi panitia berubah jadi neraka. Sekitar pukul 07.30, Ustad belum nongol di dermaga Ancol, Jakarta Utara. Kapal cepat sudah disiapkan. Cuaca bersahabat. Panitia menghubungi si manajer. Tak tersambung. Kontak Ustad yang berhasil didapat juga dihubungi. Sama. Tak tersambung. 

Sia-sia. Putus asa. Akhirnya kapal cepat yang disiapkan mesti diberangkatkan. Penumpangnya, panitia, qari asal Jakarta, dan pejabat pemerintah, tanpa Ustad. 

Di lokasi, di masjid Nurul Huda, pukul 08.30, seribu orang sudah berkumpul. Kaum bapak, ibu, pemuda-pemudi, pelajar SD hingga SMA memadati masjid. Mereka antusias menunggu ustad asal Jakarta. Ustad putera mubalig kondang. Dipastikan tak datang karena tak ada kabar, akhirnya panitia memberi tahu ustad yang ditungg-tunggu batal hadir. Pukul 10.00 WIB. Sepanjang itu, panitia terus berusaha menghubungi dan sia-sia. Sebagian kecewa dan pulang. Penceramah akhirnya digantikan ustad setempat. 

Untuk menyiapkan maulid, masyarakat mengumpulkan dana. Panitia menggelar tekyan, keliling mencari sedekah warga pulau. Menurut panitia, acara itu menghabiskan lebih dari Rp 20 juta. Karena Ustad tak datang kerugian paling besar tentu nama panitia. Panitia marah dan akan menyoal kasus ini. Kronologi disebar. Dan informasi yang saya tulis ini berdasar kronologi itu. Saya usulkan kepala kronologi diberi judul “Ustad Ingkar Janji”.[] 

Oleh: Alamsyah M. Dja'far
Depok, 05 Februari 2014



Read More

Rabu, 26 Februari 2014

Pemenang Karya Terbaik Festival Film Santri
Film-film yang telah berlomba dalam Festival Film Santri (FFS) pada pertengahan tahun lalu kini dapat ditonton gratis melalui situs Youtube. Sepuluh film santri pilihan "Memahami untuk Menghargai" ini dikerjakan oleh para santri yang berasal dari sepuluh pondok pesantren dari berbagai daerah di Indonesia

Sebelumnya, film-film ini sudah dipertontonkan kepada sedikitnya 3.200 orang di berbagai pesantren, sekolah, kampus di dalam dan luar negeri. Penyelenggaraan festival film yang bertujuan mensosialisasikan toleransi ini, didukung oleh Search for Common Ground (SFCG), The Wahid Institute, serta Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M).

Perlu diketahui, meskipun karya-karya para santri para santri kini sudah dapat ditonton melalui internet, dalam kehidupan sehari-harinya para santri sendiri hanya diperbolehkan menggunakan internet dengan tujuan mengerjakan tugas. Fasilitas internet baru diperbolehkan misalnya yang berlaku di ponpes Sabilul Hasanah, Banyuasin.

Peraturan pembatasan akses penggunaan internet tersebut tidak membuat para santri berhenti berkarya. Para santri tetap memiliki keinginan membuat film-film selanjutnya agar karya mereka dapat ditonton oleh masyarakat luas.

Terdapat sepuluh film pendek yang turut serta dalam Festival Film Santri, yakni “Santri Punk” dari pondok pesantren (ponpes) Nahdlatul Ulum Maros Sulawesi Selatan, "Kuda Lumping" dari Ponpes Sabilul Hasanah Banyuasin Sumatera Selatan, "Mujaji" dari Ponpes As-Shiddiqiyah Tangerang, "Shalawat" dari pesantren Qothrotul Falah Lebak Banten, "Santri bukan Bibit Teroris" dari ponpes Al-Ghazaly Bogor Jawa Barat.

Selain itu ada "Harmoni Sutarji" dari ponpes Darul Ma'arif Lamongan Jawa Timur, "Dhewek be Islam" dari ponpes Al-Ihya Ulumaddin Cilacap Jawa Tengah, "Sasambat" dari ponpes Madinah Rasul, Babakan, Cirebon, Jawa Barat, "Satu Alamat" dari ponpes Al-Muayyad, Solo, Jawa Tengah, "Tata Cara Tante Cora" dari ponpes Nahdlatul Ulum, Sulawesi Selatan. Demikian kabar yang dilansir BeritaSatu.



Post: Iradio
Link: http://www.iradiofm.com/intermezzo/serba-serbi/273-serbaserbi-jakarta/6518-karya-festival-film-santri-dapat-ditonton-gratis
Read More
Pesantren Sabilul Hasanah, Banyuasin Sumsel
Film-film pendek bertemakan perdamaian, kemajemukan dan toleransi buatan para santri kini bisa dinikmati melalui situs Youtube. Sepuluh film santri pilihan ini dikerjakan oleh para santri yang berasal dari sepuluh pondok pesantren dari berbagai daerah di Indonesia.

Sebelumnya film-film tersebut dilombakan dalam Festival Film Santri (FFS) pada pertengahan tahun lalu yang bertema "Memahami untuk Menghargai". Film-film ini sudah dipertontonkan kepada sedikitnya 3.200 orang di berbagai pesantren, sekolah, kampus di dalam dan luar negeri.

Sepuluh film pendek tersebut yakni “Santri Punk” dari pondok pesantren (ponpes) Nahdlatul Ulum Maros Sulawesi Selatan, "Kuda Lumping" dari Ponpes Sabilul Hasanah Banyuasin Sumatera Selatan, "Mujaji" dari Ponpes As-Shiddiqiyah Tangerang, "Shalawat" dari pesantren Qothrotul Falah Lebak Banten, "Santri bukan Bibit Teroris" dari ponpes Al-Ghazaly Bogor Jawa Barat.

Selain itu ada "Harmoni Sutarji" dari ponpes Darul Ma'arif Lamongan Jawa Timur, "Dhewek be Islam" dari ponpes Al-Ihya Ulumaddin Cilacap Jawa Tengah, "Sasambat" dari ponpes Madinah Rasul, Babakan, Cirebon, Jawa Barat, "Satu Alamat" dari ponpes Al-Muayyad, Solo, Jawa Tengah, "Tata Cara Tante Cora" dari ponpes Nahdlatul Ulum, Sulawesi Selatan.

Penyelenggaraan dan sosialisasi toleransi melalui media video dan penyiaran itu didukung oleh Search for Common Ground (SFCG) dan The Wahid Institute serta Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M).

Meskipun karya-karya mereka sudah bisa ditonton melalui internet, para santri sendiri hanya menggunakan internet dengan terbatas. Dengan tujuan mengerjakan tugas, internet baru diperbolehkan misalnya yang berlaku di ponpes Sabilul Hasanah, Banyuasin. Namun demikian, para santri masih ingin membuat film-film selanjutnya agar bisa ditonton oleh masyarakat luas.

Tim pembuat film yang ikut dalam FFS dari ponpes Sabilul Hasanah delapan orang, lima perempuan dan tiga lelaki. Sementara pelajar di ponpes tersebut memang sebagian besar, hingga 60 persen adalah santri perempuan.

"Di Sekayu ada tanah yang kabarnya bisa dimakan," kata Muhammad Rizky Astary, salah satu santri di Sabilul Hasanah ketika ditemui di pondokannya di Banyuasin, Sumatera Selatan, Senin petang (24/2). Hal tersebut kata dia akan sangat menarik diangkat menjadi film pendek.

Sementara salah satu pimpinan yayasan ponpes itu, Ubaidillah Luai menilai pengetahuan media dan penyiaran akan membawa hal positif bagi para santrinya. Menurutnya, banyak yang berminat belajar keahlian media tersebut. "Sejak tahun 2011 diadakan pelatihan (radio dan video)," kata Ubaidillah.


Post: Berita Satu
Link: http://www.beritasatu.com/film/167996-film-santri-pilihan-bisa-dinikmati-di-youtube.html
Read More

Selasa, 25 Februari 2014

Pemenang Karya Terbaik Festival Film Santri

FESTIVAL FILM SANTRI: Santri Membuat Film tentang Keberagaman Islam

Bicara soal pesantren tak pelak ada pemandangan khas yang langsung terbayang. Gadis-gadis muda berkerudung, dan jejaka-jejaka berbaju koko dan berpeci. Tapi soal keilmuan, para santri masa kini tak melulu identik dengan kegiatan mengaji. Mereka juga belajar tentang multimedia, bahkan sebagian dari mereka lewat produksi film dokumenter. 

Lewat ajang Festival Film Santri, mereka mampu menunjukkan Islam pun menjadi lebih pluralisme dan menyebarkan misi perdamaian. Berbagai ide di setiap wilayah pesantrennya masing-masing membuat 21 film karya santri di 10 pesantren lolos masuk seleksi Festival Film Santri. 

Festival yang diselenggarakan oleh Search for Common Ground (SFCG) Indonesia bekerja sama dengan Wahid Institute dan Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) ini membuat roadshow hingga ke kota-kota di Indonesia dan London.
Read More
Suraji Sukamzawi
Film dokumenter hasil karya santri pesantren dari berbagai daerah dipromosikan hingga ke London di Festival Film Santri. Hingga kini ajang yang sudah dimulai pada Juni tahun lalu ini sudah disaksikan sekitar 3200 penonton. Mulai di berbagai pesantren, komunitas di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi, Maluku hingga ke London, Inggris. 

"Di sana, film-film tersebut mendapat apresiasi respon yang positif," ujar project officer Search for Common Ground (SFCG) Indonesia, Suraji kepada detikHOT. 

Akhir tahun lalu, film-film ini ditonton saat workshop Indonesian Cinema di The Centre for South East Asian Studies, SOAS, University of London. Saat itu terdapat 20 panelis yang persentasi dengan berbagai tema. 

Di antaranya dari Amerika, Belanda, Singapura, Inggris, dan lain-lain. Salah satu film yang mendapatkan respon positif adalah 'Santri Punk' yang dibuat oleh Ponpes Nahdlatul Ulum dari Maros, Sulawesi Selatan. 

"Mereka terkesan dengan film itu. Kok ada santri seperti itu. Jadi anak punk tapi juga mondok (tinggal di dalam pesantren)," ujarnya. Dalam film berjudul 'Santri Punk' tersebut memang menceritakan kehidupan seorang santri bernama Zauki yang 'nyantri' di pesantren. Namun juga menjadi anak punk dan bersahabat dengan anak-anak punk. 

Festival Film Santri ini diselenggarakan berkat kerja sama antara SFCG, The Wahid Institute, dan Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M). 

Menurut Suraji, pemilihan 10 pesantren di tanah air adalah daerah yang memiliki sorotan secara nasional. Serta terdapat tensi ketegangan sosial yang tinggi dan rentan konflik karena agama. "Sedangkan pesantren punya tradisi yang kuat untuk menciptakan perdamaian."

Harapannya, ke depannya festival film ini akan secara kontinu diadakan tiap tahunnya. Serta bagi para peserta yang menjadi finalis agar menyebarkan pesan perdamaian melalui film dokumenter.


Post: Hot.Detik.com
Link: http://hot.detik.com/read/2014/02/26/144736/2509071/1059/diam-diam-film-dokumenter-produksi-anak-pesantren-dipromosikan-hingga-ke-london
Read More

Sabtu, 07 September 2013


Peserta Pelatihan Dakwah Tranformatif P3M
Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) menggelar pelatihan dakwah tranformatif di Pondok Pesantren Nurul Dholam, Pengasih, Kulon Progo. Peserta pelatihan merupakan para pengurus masjid di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, Sabtu (7/9).

Di hari Sabtu yang merupakan hari ketiga pelatihan, para peserta ditugasi langsung untuk terjun di masyarakat. Sementara dua hari sebelumnya, para peserta dibekali dengan sejumlah teori praktis terkait penelitian partisipatif.

Peserta yang berjumlah dua puluh satu orang dibagi menjadi tiga kelompok besar. Tiga kelompok menjalankan tugas penelitian di dusun berbeda.

“Penelitian-penelitian yang selama ini dilakukan menempatkan masyarakat sebagai objek. Sementara penelitian partisipatif ini menjadikan masyarakat subjek penelitian. Artinya, dalam penelitian partisipatif, peneliti dan masyarakat yang diteliti sama-sama bekerja sama dalam melakukan penelitian,” kata KH Hilmy Ali yang menjadi narasumber dalam pelatihan. 

Ketika ditanya mengenai harapan dari pelatihan ini, salah satu peserta menginginkan para takmir masjid bisa ikut andil dalam pemerintahan dan bisa memberikan sumbangsih nyata terhadap masyarakat.

“Kalau harapan itu terwujud, maka fungsi masjid akan kembali sebagaimana masjid di zaman Rasulullah yang bukan hanya berfungsi untuk ibadah mahdhah, tapi juga untuk ibadah ghairu mahdah (ibadah murni),” jelas perwakilan dari Majid Kokap Kulon Progo Chandra.

Pelatihan rencananya akan berakhir hari Senin (9/9). Pelatihan ini diikuti oleh perwakilan takmir lima masjid se-Kulon Progo.


(Rokhim/Alhafiz K)


Post: NU Online
Link: http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,46886-lang,id-c,daerah-t,P3M+Kulon+Progo+Gelar+Pelatihan+Penelitian+Partisipatif-.phpx
Read More

Senin, 29 Juli 2013

Buka Bersama Di P3M, 28 Juli 2013
Buka Bersama Di P3M, 28 Juli 2013
dari Kiri ke Kanan (Pak Sodri, Ahmad Saiful, Ghundar, Abdullah, Bu Khusnul, Khayun, Agus Setia Budi, Pak Masdar, Kang Sarmidi, dan Masykurudin Hafidz)

Read More

Rabu, 20 Maret 2013

Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) bekerja sama dengan Fatayat NU Ancab Cepogo, Boyolali Jawa Tengah melaksanakan pelatihan Membangun Ruang Keterlibatan Komunitas Masjid Dalam Musrembang Desa. Pelatihan yang bertempat di Pondok Pesantren Istiqomah, Cepogo, Boyolali itu rencanya berlangsung selama empat hari dari tanggal 13 sampai 16 Maret 2013.

Pelatihan sendiri dibuka langsung oleh Ibu Camat Cepogo Boyolali Siti Askariyah. Pada sambutanya, Siti Askariyah mengapresiasi dan mendukung acara yang digagas oleh Fatayat NU bekerjasama dengan P3M lantaran dinilai mampu membantu mengentaskan kemiskinan di Boyolali.

Sementara itu, Rois Syuriah PBNU, K.H. Masdar F. Mas’udi menghimbau untuk menjadikan masjid sebagai center gerakan umat untuk memakmurkan masjid dan memakmurkan bumi Allah SWT. Kalau ini sudah menjadi gerakan bersama akan membantu pemerintah untuk merealisasikan program pemerintah tanpa harus mengeluarkan dana sosialisasi.

Lebih lanjut dia mengatakan selama ini pemerintah desa jarang sekali terdengar
membuat perencanaan pembangunan dan penganggaran yang lebih partisipatif berbasis kebutuhan desa. Padahal soal itu sedikitnya sudah ada dua Undang-Undang (UU) dan satu Peraturan Pemerintah. Di antaranya adalah UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, dan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa.

“Ketiga payung hukum tersebut sebenarnya memberikan memberikan peluang bagi desa untuk membuat perencanaan pembangunan dan penganggaran yang lebih partisipatif berbasis kebutuhan desa,” katanya di tempat yang sama.

Menurut Masdar wewenang yang diberikan UU tersebut belum menunjukan hasil yang maksimal. Karena dalam prosesnya tidak semua elemen desa bisa terlibat sementara hasilnya sering kali rumusan antara kebutuhan dan keinginan kurang bisa terbedakan dengan baik, hasil Musrembang Desa juga sering tidak menampung kebutuhan umat terutama yang miskin dan marjinal.

“Merujuk masa Rasulullah, kala itu Rasul kerap mendiskusikan permasalahan umat di masjid baik permasalahan ekonomi maupun sosial politik. Karenanya sekaranglah saatnya komunitas masjid dalam hal ini Ta’mir Masjid bisa menampung apa yang dirasakan oleh umat untuk selanjutnya bisa mencari jalan penyelesainya secara bersama,” pungkasnya. (mad/jto)


Post: suara kawan, 14 Maret 2013
Repost: P3M
Read More