Slider Background

Your Blog Welcome Text

Tampilkan postingan dengan label Efa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Efa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 April 2012

Pekan Aksi Global untuk Pendidikan Untuk Semua. Bersama 18 anggota jaringan CSOiEFA, Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat menghimbau dan mengajak masyarakat untuk mendorong terwujudnya pendidikan untuk semua. Untuk tahun ini kampanya difokuskan pada pendidikan anak usia dini. Di mana pendidikan anak usia dini penting bagi tumbuh kembang dan pembentukan karakter seorang anak, selain bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan terbaiknya sejak dini. 
ANDA DAPAT MEMBERIKAN DUKUNGAN ANDA dengan Berkunjung ke WEBSITE JARINGAN KAMI di www.csoiefa.org, FB CSOiEFA, di www.facebook.com/csoiefa atau dengan mengunjungi kami di www.twitter.com/csoiefa

MARI BERSAMA WUJUDKAN PENDIDIKAN UNTUK SEMUA! 


Read More

Rabu, 25 Januari 2012


Kampanye Pendidikan Untuk Semua dalam Global Action Week, Mei 2011~CSOiEFA dengan Lead Program Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M)


FAKTA BAHWA:

  • Rendahnya Kualitas Pendidikan adalah Penyebab Utama Lambatnya Pembangunan di Indonesia dan Lemahnya Daya Saing Kita di Tingkat Global
  • Indeks Pendidikan Kita Turun, dari 65 di Tahun 2010 Menjadi 69 di Tahun 2011 dari 127 Negara
  • Angka Putus Sekolah Dasar 527.850 Anak Tiap Tahun dari 31.5 Juta Anak Sekolah SD
  • 720.000 Anak yang Lulus SD tidak Dapat Melanjutkan ke SMP tiap Tahunnya
  • 1,8 Juta Anak Usia 7-12 Tahun dan 4,8 Juta Anak Usia 13-15 Tahun, Tidak Bersekolah
  • 6 dari Sepuluh Anak Putus Sekolah Adalah Perempuan
  • 41 % Prosentasi Anak-anak Miskit Tidak Dapat Sekolah
  • Hampir 50 Persen Guru SD Tidak Memenuhi Kualifikasi Yang Disyaratkan
  • 55 Persen Ruang Kelas Tidak Memenuhi Standar

CSOiEFA ~ 2011


Read More

Rabu, 06 Juli 2011

P3M, Ciputat -- Selasa (5/4), Kelompok Studi Manbaul Afkar, Korps PMII Puteri dan Pendidikan untuk Semua mengadakan diskusi menyoal pendidikan, khususnya pendidikan tinggi di universitas. Bertempat di Aula PMII, pukul 20.00 hingga 22.00 lebih, kegiatan diskusi berlangsung. 21 mahasiswi hadir dalam diskusi tersebut. Fasilitator oleh Masykrudin Hafidz dan Very Verdiansyah, memandu diskusi.
Persoalan yang dikemukaan Yelia, mahasiswi Tarbiyah “biaya pendidikan menjadi perkara utama. Di samping itu kita tidak bisa mengharapkan pelayanan terbaik dari kampus,” ujar Yelia. Selain diskusi langsung, para peserta diskusi saling mengemukakapan pendapatnya secara kritis. Misal ega membantah pendapat Azizah ketika membahas komersialisasi dan DIPA.
“Pandangan bahwa kampus UIN Jakarta go international university. Jadi, persoalan yang seharusnya dirubah tentang kampus adalah memperbaiki kelembagaan kampus terlebih dahulu.” Demikian Dian mahasiswi jurusan manejemen menambahkan.
Para peserta yang sebagian besar mahasiswi aktivis organisasi di kampus menanggapi pentingnya kegiatan diskusi semacam ini bisa tetap berlangsung. Tujuannya, keterbukaan komunikasi bisa tanpa saling curiga bisa dihindarkan. Tidak hanya mahasiswa sebagai civitas akademika, melainkan juga pihak pengambil kebijakan pendidikan di kampus. Cita-cita agar ketidakjomplangan tidak terjadi dan bisa menciptakan pendidikan yang berkeadilan.
“Mahasiswa sebagai kelompok sosial yang diuntungkan karena bisa mengakses pendidikan tinggi setidaknya tidak rabun pada masalah sosial khususnya pendidikan. Dari kitalah perubahan negeri ini bisa jadi lebih baik,” Very menutup kegiatan diskusi.
Read More

Minggu, 08 Mei 2011

Lead Program: Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M)

Pendidikan adalah proses memberikan nilai-nilai kognitif, afektif dan psikomotorik kepada setiap manusia. Demikian juga, pendidikan adalah sarana utama untuk membentuk manusia yang produktif, inovatif dan berkepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai budaya sekaligus mentransformasikan nilai-nilai yang diharapkan berguna dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Dalam pemenuhan proses pendidikan, negara menjamin bahwa setiap warga negara (perempuan dan laki-laki) mempunyai kesamaan hak dan kewajiban yang sama untuk memperoleh pendidikan, yang dituangkan dalam Pasal 31 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Indonesia telah meratifikasi Konvensi tentng Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan, melalui Undang-Undang Nomor 7 tahun 1984 dan Permendiknas Nomor 84 Tahun 2008 sebagai bentuk komitmen negara terhadap berbagai bentuk diskriminasi yang dialami perempuan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk pendidikan. Komitmen tersebut diperkuat dengan penandatanganan Optional Protocol to CEDAW oleh Pemerintah Indonesia pada tanggal 28 Februari 2000.

Berbagai peraturan perundang-undangan tersebut kemudian dijabarkan ke dalam berbagai kebijakan, program dan kegiatan, yang tersurat dalam berbagai dokumen pemerintah dan disusun atas dasar pengakuan terhadap adanya peran perempuan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Perempuan sebagai bagian dari isu utama dalam setiap gerakan pendidikan untuk semua (Educatin for All) karena mengacu pada amanat Forum Deklarasi Pendidikan untuk Semua di  Jomtien, Thailand (1990) dan Forum Pendidikan Dunia di Dakkar, Senegal (2000), perempuan memeroleh kesempatan yang sama untuk mendapatkan layanan pendidikan.

Usaha-usaha yang dilakukan  adalah meningkatkan melek huruf (literacy), khususnya perempuan dan meningkatkan akses pembelajaran seumur hidup (long life education) bagi orang dewasa. Dalam konteks yang lebih ;uas, pendidikan memang bukanlah semata urusan status, melainkan lebih pada pembentukan wawasan, kemandirian, dan konsep diri yang lebih baik. Pendidikan yang lebih tinggi bagi perempuan juga membuatnya memiliki keunggulan, sehingga hidup dan keluarganya bisa menjadi lebih baik.

TUJUAN UMUM 
  1. Kampanye tentang pendidikan bagi semua dengan tujuan bahwa pada tahun 2015 semua anak baik laki-laki maupun perempuan dapat mengenyam pendidikan.
  2. Promosi kesetaraan dan pemberdayaan perempuan dan anak perempuan dengan tujuan untuk menghapus segala bentuk disparitas dalam pendidikan.
  3. Kampanye pemihakan kepada perempuan dan anak perempuan ke dalam kebijakan-kebijakan, program-program, aktivitas dan agenda pembangunan lintas sektoral di semua tingkat baik nasional maupun daerah.
TUJUAN KHUSUS 
  1. Deliverasi informasi dan pengetahuan tentang terbukanya pendidikan untuk perempuan dan anak perempuan.
  2. Kampanye dan publikasi tentang pentingnya perempuan dan anak perempuan dalam proses pendidikan bangsa.
  3. Meningkatkan peran dan keterlibatan masyarakat perempuan dan anak perempuan dalam proses kampanye advokasi pendidikan untuk semua.
HASIL YANG DIHARAPKAN
  1. Adanya situs dan pusat informasi yang update dalam berbagai perkembangan proses pendidikan khususnya untuk perempuan dan anak perempuan.
  2. Adanya tukar informasi dan curah pendapat antara pemerintah yang bertanggungjawab menjalankan proses pendidikan dengan pihak perempuan dan anak perempuan.
  3. Adanya gerakan masyarakat yang massif untuk menekan pihak-pihak yang bertanggungjawab terhadap pendidikan untuk perempuan dan anak perempuan.
MONITORING DAN EVALUASI
Seluruh kegiatan GAW dalam pengawasan dari anggota SC dan rapat-rapat antar lead organisasi. Evaluasi dilalukan pada setiap tahap kegiatan yang terus dikonsultasikan dengan SC. Sistem kegiatan dengan menyertakan anggota jaringan menjadi salah satu cara dalam monitoring kegiatan program ini.
           
PEMBELAJARAN
Melibatkan sebanyak mungkin perempuan dalam pelaksanaan kegiatan baik sebagai narasumber, fasilitator ataupun peserta. Pelibatan ini tidaklah sulit karena jaringan CSOiEFA mempunyai banyak jaringan yang beranggotakan perempuan.
Kegiatan GAW juga sebagai wahana membangun dan memperluas komunikasi dan konsolidasi intensif antar lembaga jaringan CSOiEFA dengan membangun tema bersama.
Read More

Rabu, 04 Mei 2011


Civil Society Organizations initiative Education for All (COOiEFA) yang terdiri dari 15 organisasi sipil (ACE/PKM, Bina Swada Konsultan, BKKPSI, Fisip-UMJ, IHF, Lakpesdam NU, LP3ES, Muslimat NU, P3M, PGRI, Seknas PPSW, Yapari, Yayasan Aulia, Yayasan Balita Sehat, dan Yayasan Insan Sembada) memperingati hari pendidikan nasional, sejak 01 Mei hingga 08 Mei 2011 akan melakukan berbagai aksi sepekan aksi pendidikan untuk semua.
Rangkaian kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam sepekan ini antara lain:  

Minggu, 01 Mei 2011 

1.  Konferensi Pers 
Waktu   : 10.00-12.00 WIB 
Tempat : Bumbu Desa, Cikini Jakarta Pusat

2.  Publikasi Poster Saatnya Pendidikan Untuk Perempuan dan Anak Perempuan
Lokasi di seratus titik Jabodetabek

3. Diskusi Radio di Wadi FM
Tema  : Peranan Pesantren dalam Pendidikan Perempuan dan Anak Perempuan dalam Membangun Keluarga Bahagia dan Peradaban Bangsa
Narasumber : Yies Sa'diyah Maksum, Mpd
Senin. 02 Mei 2011
1. Opini Media Masa
Media  : Republika
Judul    : Peringatan Hari Pendidikan Nasional : Pendidikan Untuk Perempuan dan Anak Perempuan 

2. Iklan Pendidikan Untuk Semua: Saatnya untuk Perempuan dan Anak Perempuan
Media  : Republika halaman 04 sudut kiri

Selasa, 03 Mei 2011 
1. Diskusi Radio di KBR 68 H 
Waktu  : 13.00-14.00 WIB
Tema    : Hasil Kajian tentang UN dan Problem Pendidikan di Indoensia

Rabu, 04 Mei 2011
1. Publikasi Antara Kenyataan dan Harapan di Indonesia
Lokasi   : di empat titik Jabodetabek
Tema     : Diskusi dari kelompok masyarakat miskin, pinggiran dampingan anggota CSOiEFA

Kamis, 05 Mei 2011
1. Diskusi Radio di Wadi FM Bogor
Waktu  : 16.00-18.00 WIB
Tema    :  Education For All dalam Perspektif Islam

Jum'at, 06 Mei 2011
1. Buletin Jum'at 
Tema  :  Islam dan Hak Pendidikan Bagi Semua
Penulis : Khariroh Ali
Jumlah : 10 ribu ekslempar
Sebaran : 50 masjid se-Jabodetabek

Sabtu, 07 Mei 2011
1.  Diskusi Radio di Wadi FM Bogor
Waktu  : 16.00-18.00 WIB
Tema  : Kajian Anggaran Pendidikan dan Pencapaian Pemerataan Pendidikan yang Berkualitas

Minggu, 08 Mei 2011
1. Aksi Damai dan Teatrikal
Waktu : 07.00 WIB-Selesai
Tempat : Pintu Timur Monas
Tema : Aksi Damai Pendidikan Untuk Semua: Saatnya Pendidikan untuk Perempuan dan Anak Perempuan



Informasi : Masykurudin Hafidz (081806629669)




Read More

Selasa, 03 Mei 2011


Jakarta-Jaringan lembaga swadaya masyarakat peduli pendidikan (CSOiEFA) menilai pendidikan untuk kaum perempuan dan anak perempuan perlu terus digalakkan ke depan. Pasalnya, peluang kelompok perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang layak masih kecil. Setidaknya, hal itu dibuktikan dengan mayoritas kelompok buta huruf di Indonesia berasal dari kalangan perempuan.
"Kondisi perempuan yang memprihatinkan seperti ini perlu kita perbaiki melalui jalur pendidikan," kata Sekretaris Umum Muslimat NU Yies Sa'diyah Maksum di Jakarta, Minggu (1/5).
Tantangan sektor pendidikan di Indonesia sekarang, kata Yies Sa'diyah, selain kualitas sumber daya manusia yang masih rendah juga persoalan kesenjangan pendidikan antara kaum laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu sudah saatnya kondisi itu diubah dengan menggalakkan pendidikan untuk perempuan dan anak perempuan ke depan.
"Banyak perempuan dan anak perempuan, terutama di daerah perdesaan yang kemudian tidak melanjutkan pendidikannya jika sudah lulus sekolah dasar, jika sudah lulus sekolah dasar dianggap sudah cukup, yang penting bisa membaca, kondisi ini juga dipengaruhi oleh budaya yang berkembang di masyarakat di mana laki-laki lebih penting daripada perempuan," kata Yies Sa'diyah.
Sementara, pemerhati pendidikan, Darmaningtyas mengatakan kesenjangan antara laki-laki dan perempuan lebih terasa di jenjang perguruan tinggi. Setelah lulus SMA ataupun SMK jarang perempuan melanjutkan ke jenjang kuliah. Kalau pun melanjutkan cukup jenjang diploma agar bisa cepat bekerja. Sementara, jenjang S 1 didominasi kaum laki-laki.
Bila pemerintah mau mengurangi kesenjangan pendidikan antara laki-laki dan perempuan, kata pengurus Majelis Luhur Tamansiswa Yogyakarta ini, maka pembenahannya bukan hanya di sistem rekrutmen perguruan tinggi semata tapi juga pembenahan sistem pendidikan di SMP dan SMA. Kelompok perempuan perlu diberikan ruang agar dapat masuk ke SMP dan SMA favorit yang dapat memperlancar akses untuk masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN).
"PTN juga tidak boleh dikomersialkan, kebanyakan perempuan miskin tidak bisa akses ke pendidikan tinggi, meskipun pemerintah selalu menyatakan bahwa ada jatah 20 persen bangku pendidikan untuk kaum miskin, tapi hal itu sulit terpenuhi," ujarnya. [jurnas/www.csoiefa.org]
Read More

Jumat, 18 Februari 2011


Nama Program: Education for All Media Campaign (Mendorong Jaminan Pendidikan Bagi Perempuan dan Anak Perempuan di Indonesia)
Progran Officer Progran: Ahmad Ikrom
Sekretaris Program: Masykuruddin Hafidz

Pendidikan adalah proses memberikan nilai-nilai kognitif, afektif dan psikomotorik kepada setiap manusia. Demikian juga, pendidikan adalah sarana utama untuk membentuk manusia yang produktif, inovatif dan berkepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai budaya sekaligus mentransformasikan nilai-nilai yang diharapkan berguna dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Dalam pemenuhan proses pendidikan, negara menjamin bahwa setiap warga negara (perempuan dan laki-laki) mempunyai kesamaan hak dan kewajiban yang sama untuk memperoleh pendidikan, yang dituangkan dalam Pasal 31 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Indonesia telah meratifikasi Konvensi tentng Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan, melalui Undang-Undang Nomor 7 tahun 1984 dan Permendiknas Nomor 84 Tahun 2008 sebagai bentuk komitmen negara terhadap berbagai bentuk diskriminasi yang dialami perempuan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk pendidikan. Komitmen tersebut diperkuat dengan penandatanganan Optional Protocol to CEDAW oleh Pemerintah Indonesia pada tanggal 28 Februari 2000

Berbagai peraturan perundang-undangan tersebut kemudian dijabarkan ke dalam berbagai kebijakan, program dan kegiatan, yang tersurat dalam berbagai dokumen pemerintah dan disusun atas dasar pengakuan terhadap adanya peran perempuan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Perempuan sebagai bagian dari isu utama dalam setiap gerakan pendidikan untuk semua (Educatin for All) karena mengacu pada amanat Forum Deklarasi Pendidikan untuk Semua di Jomtien, Thailand (1990) dan Forum Pendidikan Dunia di Dakkar, Senegal (2000), perempuan memeroleh kesempatan yang sama untuk mendapatkan layanan pendidikan.

Usaha-usaha yang dilakukan adalah meningkatkan melek huruf (literacy), khususnya perempuan dan meningkatkan akses pembelajaran seumur hidup (long life education) bagi orang dewasa. Dalam konteks yang lebih ;uas, pendidikan memang bukanlah semata urusan status, melainkan lebih pada pembentukan wawasan, kemandirian, dan konsep diri yang lebih baik. Pendidikan yang lebih tinggi bagi perempuan juga membuatnya memiliki keunggulan, sehingga hidup dan keluarganya bisa menjadi lebih baik.


Tujuan Program
Tujuan umum program ini, pertama, mengkampanyekan pendidikan bagi semua dengan visi bahwa pada tahun 2015 semua anak baik laki-laki maupun perempuan dapat mengenyam pendidikan. Kedua, promosi kesetaraan dan pemberdayaan perempuan dan anak perempuan dengan tujuan untuk menghapus segala bentuk disparitas dalam pendidikan. Ketiga, kampanye pemihakan kepada perempuan dan anak perempuan ke dalam kebijakan-kebijakan, program-program, aktivitas dan agenda pembangunan lintas sektoral di semua tingkat baik nasional maupun daerah.


Sedangkan tujuan khusus dari program ini, pertama, deliverasi informasi dan pengetahuan tentang terbukanya pendidikan untuk perempuan dan anak perempuan. Kedua, kampanye dan publikasi tentang pentingnya perempuan dan anak perempuan dalam proses pendidikan bangsa. Ketiga, meningkatkan peran dan keterlibatan masyarakat perempuan dan anak perempuan dalam proses kampanye advokasi pendidikan untuk semua.


Output
Pertama, adanya situs dan pusat informasi yang update dalam berbagai perkembangan proses pendidikan khususnya untuk perempuan dan anak perempuan.


Kedua, adanya tukar informasi dan curah pendapat antara pemerintah yang bertanggngjawab menjalankan proses pendidikan dengan pihak perempuan dan anak perempuan.


Ketiga, adanya gerakan masyarakat yang massif untuk menekan pihak-pihak yang bertanggungjawab terhadap pendidikan untuk perempuan dan anak perempuan


Kegiatan

Merujuk kepada konteks program diatas, pelaksanaan kegiataan ini akan dilakukan selama 5 bulan dengan 4 kegiatan utama yaitu a) Pembuatan pusat informasi EFA, b) Sepekan Aksi Pendidikan c) Diskusi Radio dan d) Monitoring.


a.  Pembuatan Pusat Informasi EFA


1) Pembuatan pusat informasi EFA ini berbentuk website dan jejaring sosial semisal facebook dan twitter.
2) Website akan menampilkan konsep EFA dan link program jaringan EFA.
3) Update berita dan kegiatan program mengikuti setiap kegiatan jaringan EFA dan mempublikasikan di jejaring sosial.


b. Sepekan Aksi Pendidikan
1) Kegiatan ini adalah aksi damai dari masyarakat perempuan anak perempuan sebagai wahana untuk menarik perhatian pemerintah dan elemen lainnya.
2) Aksis massa ini direncanakan di Bundaharan Hotel Indonesia (HI) pada tanggal 8 Mei yang juga ditujukan sebagai Peringatan hari pendidikan nasional dan internasional. 
3) Jaringan EFA melakukan aksi dama bersama dengan membentangkan spanduk, membagikan alat kampanye dan mengenakan seragam pendidikan.
4) Di akhir aksi Jaringan EFA melakukan konferensi pers ke media publik dengan mengundang media baik cetak maupun elektronik.


c. Diskusi Radio
1) Diskusi Radio dilakukan sebanyak 2 kali yaitu di radio KBR 68 H Jakarta dan Radio Syiar FM Bogor.
2) Diskusi radio mengundang pemerintah yang menangani kebijakan pendidikan dan aktifis pendidikan Jaringan EFA dan ditemai satu moderator dari P3M dan satu moderator sebagai host dari Radio setempat.
  • 3) Diskusi radio membuka sessi Tanya jawab kepada pendengar.
    4) Disela-sela diskusi ada iklan dan kampanye program Jaringan EFA.
Read More